Diskusi dan Presentasi

Tema besar pada rangkaian diskusi Festival Film Dokumenter tahun ini adalah Retrospektif.  Melalui retrospektif ini, kami ingin mengenalkan kepada penonton mengenai masa lalu kami dalam mencapai proses ke-10 tahun ini.  Selain itu, melalui beberapa film yang akan diputar kami mengajak penonton bersikap bijak mengenai posisi media dan masyarakat sebagai konsumennya, dimana kebebasan berpendapat tidak serta diikuti oleh kebebasan untuk memilih media karena tidak tersedianya banyak pilihan untuk menyalurkan pendapat.

Hingga kini, karya-karya penting telah dibuat dan menjadi parameter, media literasi dan edukasi publik. Lalu, bagaimana medium ini ‘merekam’ sejarah melalui karya? Mengapa film dokumenter dianggap fleksibel dan memiliki ruang gerak yang lebih leluasa untuk dijadikan ruang pembelajaran dan penyampai pesan? Bagaimana para pembuat karya berada dalam perimeter titik hubung dan merefleksikan pengalaman mereka melalui medium dokumenter? Melalui program ini kami berharap bisa menjawab, mengumpulkan dan mempertemukan para pembuat karya dokumenter, pelaku dokumenter di Indonesia, serta praktisi inovatif dari luar untuk pertukaran dan diskusi yang terfokus pada dokumenter di Indonesia pasca reformasi.

DISKUSI

A. SEKTARIAN DALAM DOKUMENTER; KARYA, RUANG, DAN MUATAN KEKERASAN.

Ada sekian banyak konflik sektarian yang tidak saja terjadi kurun pasca orde baru di Indonesia, peristiwa itu tentu melahirkan sekian kontroversi, hal tersebut tentu tidak hanya terjadi di Indonesia. India pun memiliki sejarah dan ingatan sendiri atas peristiwa tersebut. Konflik-konflik tersebut telah mengubah banyak hal dan menjadi ingatan atau sejarah dari sebuah bangsa sampai pada ingatan personal.

Apakah dokumenter menjadi media dan ruang yang fleksible untuk menyampaikan informasi atau pesan mengenai pembahasan sektarianisme?. Bagaimana para pembuat karya menempatkan muatan kekerasan dan mengemas ingatan personalnya melalui dokumenter sebagai medium yang dianggap lebih tepat?. Bagaimana merefleksikan, memberi sumbangan pada atau menghidari konflik yang lebih besar?.

Pemutaran Film Dokumenter :

Father, Son, and Holy War (Anand Patwardan) Promised Paradise (Leonard Retel Helmrich) Indonesia Bukan Negara Islam (Jason Iskandar)
 2 Desember 2011 | R. Seminar, Taman Budaya Yogyakarta | pukul 15.00-21.00 WIB

Diskusi dengan pembicara :

Sandeep Ray (NUS Singapore)
Jason Iskandar (Indonesia)
Nicolaas  Warouw (Indonesia|UGM)
 3 Desember 2011 | R. Seminar, Taman Budaya Yogyakarta | pukul 10.00-12.00 WIB

Program pemutaran dan diskusi mengenai konflik sektarian dan keberagaman, dalam Festival Film Dokumenter 2011 merupakan program paralel event Biennale XI Yogyakarta 2011.

B.    Membaca Kembali; Film Film Kompetisi (2002-2010) |  FFD#10

Mengajak  juri sebagai pembahas; Herlambang Yudho (2003), P.M Laksono (2002, 2003, 2004, 2005, 2006, 2007 dan 2010), Budi Irawanto (2005-2008),  G.Budi Subanar (2008 dan 2010),  Ons Untoro (2003-2004), dan Zamzam Fauzanafi (2008-2010).

Pada 2002, FFD mengawali sebuah program kompetisi dalam rangkaian festival, hingga tahun 2010 genap sudah program kompetisi beserta karya, pembuat karya dan panel juri menyaksikan pertumbuhan dan perkembangan dokumenter Indonesia, selama 10 tahun ini. Ruang ini merupakan titik hubung antara pembuat karya, karya itu sendiri dan para panel juri (madya/seleksi, final, siswa SMU) serta penonton yang merepresentasi jamannya

Turut mengundang; peserta kompetisi ffd 2002-2010, juri madya masing masing kategori, juri final masing masing kategori yang lainnya.

6  Desember 2011| R. Seminar, Taman Budaya Yogyakarta | pukul 13.00-16.00 WIB

SEMINAR

1.    Dokumenter Indonesia; Sejarah, Pasca Orde Baru

Pada masa pasca reformasi, mulai banyak karya-karya dokumenter yang menghadirkan bahasa dan simbol-simbol masa lalu. Terbentuknya ruang publik baru dan munculnya beragam media, membuat persitiwa-peristiwa itu direfleksikan secara kreatif dengan medium dokumenter. Para pembuat karya menggunakan medium dokumenter untuk menampilkan memori personalnya sekaligus mendekati struktur sosial masyarakat urban di Indonesia.

Joris Iven, Robert Lemelson, Curtis Levy, telah memberi kontribusi yang tak ternilai untuk Indonesia, dari ingatan yang terekam melalui dokumenter. Karya mereka, menimbulkan wacana dan referensi bagi generasi seterusnya dalam melihat dan mengenal masa lalu, tentu saja dalam versi ingatan yang dimiliki dan direkam oleh mereka. Festival Film Dokumenter (ffd) mencoba menjadi ruang yang hidup di  era pasca-reformasi yang  mempertemukan antara pembuat karya, karya, dan penontonnya selama 10 tahun ini. Sesi ini akan menyajikan sedikit mengenai proses kami dalam menjadi ruang pertemuan beserta temuan-temuannya selama 10 tahun. Pembahasan dalam sesi ini difokuskan pada bagaimana melihat sejarah dan perkembangan dokumenter di Indonesia; pasca-reformasi.

Pembicara:

Budi Irawanto (Indonesia | NUS Singapore)
Hafiz (Indonesia | Forum Lenteng)
Katinka van Heeren (Belanda | Peneliti)
Penanggap: Hatib Abdul Kadir (Indonesia | Etnohistori)

 8  Desember 2011 | R. Seminar, Taman Budaya Yogyakarta | pukul 10.00-13.00 WIB

2.    Praktik Dokumenter dalam Perkembangan Media

10 tahun terakhir, Indonesia menjadi saksi berkembang pesatnya dimensi teknologi, komersialisme, estetika, politik dan sosial dokumenter. Penyuntingan digital, meluasnya format televisi, dan fenomena suburnya praktik dokumentasi warga di situs jejaring social adalah transformasi baru dokumenter yang dapat menjadi kritik dalam ruang media kontemporer.

Kini, dokumenter menjadi medium pembuktian, implikasi dan penyampaian dalam kemampuannya mengedit realitas, yang muncul dari berbagi perjumpaan dengan platform media baru yang kemudian mengaburkan batasan antara fiksi dan non-fiksi. Model pemahaman seperti apa yang dibutuhkan di hadapan keragaman konteks tersebut? Serta menjelaskan konsep dokumenter dalam konteks lanskap kultural yang kian meluas, dan semakin beragamnya medium, format serta konten yang diangkat. Maraknya praktik lokakarya akhir-akhir ini, membuat kecenderungan baru tentang bagaimana dokumenter dibuat, dan bagaimana dokumenter dikemas dengan piranti sekarang ini. Ironinya, kecenderungan itu justru mendominasi bentuk dan isi dokumenter sehingga yang kemudian muncul bukan keberagaman karya melainkan kesamaan dalam proses penciptaan. Kecenderungan dan terbentuknya pola tersebut muncul di sepanjang dekade ini, karena langkanya dukungan infrastruktur lokal.


Pembicara :

Eric Sasono (Indonesia / Rumahfim.org)
Dian Herdiany (Indonesia / Yayasan Kampung Halaman)
Nicolaas Warouw (Indonesia / UGM)
Moderator : Ferdiansyah Thajib (KUNCI CUltural Studies)

Sesi panel ini mencoba memeriksa kembali hubungan atau relasi dokumenter sebagai sebuah medium, serta bagaimana media memiliki peran dan menyikapi perkembangan karya karya yang hadir, juga memediasi sebagai sebuah media itu sendiri.

8  Desember 2011 | R. Seminar, Taman Budaya Yogyakarta | pukul 14.00-17.00 WIB

 

3.    Memeriksa Relasi Kuasa dalam Dokumenter dan Dilema Representasi

Dalam wacana dokumenter sebagai medium, muncul pertanyaan-pertanyaan seputar etika dan tanggung jawab, antara pembuat film dan subjek yang di-film-kan. Persoalan ini muncul akibat dari tarik-menarik atas bentuk-bentuk representasi, kolaborasi, konsekuensi dan kontribusi dalam proses pembuatan dan setelahnya. Berkembangnya film dokumenter etnografis sebagai salah satu subgenre dokumenter di Indonesia merupakan kritik atas persoalan-persoalan tersebut.

Jika kanon-kanon film etnografis dalam tradisi antropologi di dunia utara masih berkutat dengan dilema jarak dalam mengintip “eksotika” budaya lokal, di Indonesia, tantangannya cenderung ditandai dengan kesenjangan subyek sebagai kelas yang terpinggirkan dari akses media dan teknologi serta  partisipasi politik sipil  jika dibandingkan dengan posisi pembuat karya. Hadirnya karya karya yang merepresentasi ‘kelas’ terkalahkan memberi kontribusi terhadap pelaku komunitas-komunitas yang menghubungkan subjek dengan pembuat karya. Bentuk kolaborasi dan kontribusi tersebut memunculkan perubahan relasi kuasa dan dilema representasi yang terjadi kurun masa sekarang ini. Dan, bagaimana upaya pembuat karya dalam mengumpulkan dan merangkai arkais dari masyarakat yang spesifik, dalam hal ini, peran dan fungsi film akan dikembalikan lagi pada subjek-subjek dalam film dan film itu sendiri. Sesi panel ini difokuskan pada pembahasan beberapa kerangka eksplorasi yang berkembang di lapangan, yang ditempuh oleh para pembuat, peneliti maupun kelompok dalam bekerja dengan dokumenter sebagai media bagi perubahan dan melihat kemungkinan alternatif dalam memikirkan strategi serta taktik yang dikerahkan di komunitas-komunitas yang spesifik.

Pembicara :

Aryo Danusiri (Indonesia|Ragam)
Rahung Nasution (Indonesia|JAVIN)
Rhino Ariefiansyah (Indonesia|PUSKA)
Penanggap: Moh. Zamzam Fauzanafi (Indonesia|Kampung Halaman)
Moderator : Antariksa (Indonesia|Kunci-cultural studies center)
Sesi panel ini difokuskan pada pembahasan beberapa kerangka eksplorasi yang berkembang di lapangan, yang ditempuh oleh para pembuat, peneliti maupun kelompok dalam bekerja dengan dokumenter sebagai media bagi perubahan dan melihat kemungkinan alternatif dalam memikirkan strategi serta taktik yang dikerahkan di komunitas-komunitas yang spesifik.
9  Desember 2011 | R. Seminar, Taman Budaya Yogyakarta | pukul 10.00-13.00 WIB

4.    Dokumenter dalam ruang; Distribusi, Industri dan Restorasi

Dalam perkembangannya, selain sebagai medium, dokumenter menjadi perhatian tersendiri baik bagi para pelakunya, pemerhati maupun penikmat sinema hingga di wilayah industri. Anggapan mengenalkan karya dalam ruang ini, membuat  pergeseran yang cukup signifikan dalam proses penciptaan karya.

Banyaknya pilihan dan tawaran ruang untuk memperkenalkan karya bagi para pembuat karya, memungkinkan adanya interaksi langsung dalam jaringan sosial dalam peta sinema di Indonesia maupun negara-negara lain. Melalui situs media jejaring sosial, kemudahan piranti yang semakin beragam dan pluralnya bentuk karya yang diciptakan, memungkinkan penciptaan ruang distribusi dalam medium yang sama, namun dengan metode, fokus atau wilayah yang berbeda. Bagaimana mengemas distribusi karya dalam mekanisme berjejaring ataupun wilayah industri?

Beragamnya bentuk karya dokumenter yang disertai ruang-ruang yang diciptakan untuk diperkenalkan pada masyarakat luas sebagai wilayah distribusi dan industri, sudah tentu melahirkan ruang arsip visual dari karya-karya yang ada dalam menu restorasi sinema atau beberapa kumpulan karya audio-visual pada medium ini, yang ada di Indonesia. Sejauh mana, dalam kurun waktu ini, ruang tersebut memberi kontribusi dan bagaimana mekanismenya, dalam memperkenalkan  karya-karya yang ada pada masyarakat yang lebih luas?.

Pembicara :

Andrew Lowenthal (Australia|EngageMedia)
Pimpaka Towira(Thailand|Extra Virgin)
Suryani Liauw (Indonesia|Indonesian Film Centre)
9  Desember 2011 | R. Seminar, Taman Budaya Yogyakarta | pukul 14.00-17.00 WIB
 

PRESENTASI

Presentasi Film  Engagemedia

Exile and The Kingdom

(Frank Rijave | 55 mins | Australia)

Film pertama dalam sejarah perfilman Australia tentang pengalaman masyarakat Aborijin dari masa penjajahan sampai 90an. Film ini menghubungkan Masyarakat Aborijin di abad 19 dengan orang-orang Aborijin di penjara saat ini, menyajikan pemahaman yang mendalam tentang bagaimana kekerasan dan penolakan dari masa lalu berpengaruh pada masa kini. Dahsyatnya, hal ini menegaskan bahwa daya tahan mereka yang luar biasa, masyarakat adat dari Australia akan bertahan dan berkembang.

Selasa| 6 Desember 2011 | 16.00 WIB | Ruang Seminar TBY

Presentasi Karya Forum Lenteng

Dongeng Rangkas

Andang Kelana, Badrul Munir, Fuad Fauji, Hafiz, Syaiful Anwar | 75 mins | Indonesia

Film ini berusaha memotret Rangkasbitung dari aktivitas – aktivitas masyarakat yang diwakili oleh dua sosok orang penjual tahu; Kiwong dan Iron. Dua tokoh ini dapat dianalogikan sebagai potret dua pemuda yang hidup paska Reformasi 1998 yang hidup di sebuah kota berjarak 120 km dari ibukota jakarta. kota yang menjadi terkenal oleh buku Multatuli itu, sepertinya begitu lambat tumbuh, diantara hingar bingar pembangunan paska Reformasi. Kiwong dan Iron adalah dua pemuda sederhana yang memilih hidup sebagai pedagang tahu, sementara mimpi-mimpinya tetap dipegang teguh. Kiwong bermimpi menjadi pemuda yang baik, yang menjadikan keluarga hidup lebih baik dari sebelumnya. sedangkan Iron, percaya musik adalah anugerah dari Tuhan, dan ia ingin terus mengembangkan fantasi musiknya di jalur “underground”.

Rabu | 7 Desember 2011 | 19.00 WIB | Societet Militaire