<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Festival Film Dokumenter</title>
	<atom:link href="http://www.festivalfilmdokumenter.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.festivalfilmdokumenter.org</link>
	<description>Mencari, Merekam, Menemukan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 12 Dec 2011 17:49:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Screening di Hari Kelima FFD</title>
		<link>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/screening-di-hari-kelima-ffd/</link>
		<comments>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/screening-di-hari-kelima-ffd/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 08:22:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Minipost]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.festivalfilmdokumenter.org/?p=1407</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis oleh Hilman Fathoni dan Abraham Utama Setelah malam sebelumnya disesaki penonton, Jumat (9/12), Amphiteater kembali dimeriahkan para penikmat film dokumenter. Film yang mengusung tema musik kembali menjadi magnet kuat. “Metamorfoblus”, sebuah film yang berkisah tentang grup band fenomenal Slank. &#8230; <a href="http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/screening-di-hari-kelima-ffd/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ditulis oleh <strong>Hilman Fathoni</strong> dan <strong>Abraham Utama</strong></p>
<p><a href="http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/screening-di-hari-kelima-ffd/dsc_0463_2-300x199/" rel="attachment wp-att-1408"><img class="alignleft size-full wp-image-1408" title="DSC_0463_2-300x199" src="http://www.festivalfilmdokumenter.org/wp-content/uploads/2011/12/DSC_0463_2-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Setelah malam sebelumnya disesaki penonton, Jumat (9/12), Amphiteater kembali dimeriahkan para penikmat film dokumenter. Film yang mengusung tema musik kembali menjadi magnet kuat. “Metamorfoblus”, sebuah film yang berkisah tentang grup band fenomenal Slank. Mengambil sudut pandang tiga orang slankers, sebutan bagi para penggemar Slank, film ini bertutur tentang pergulatan hidup slankers yang mengadaptasi hidup idolanya. Kisah perjuangan seorang slankers asal Bantul untuk bebas dari drugs hingga cerita persatuan antara slankers Kupang dan Timor Leste membuat penonton tetap duduk di bangku mereka. Film yang disutradari oleh Dosy Omar ini dikerjakan selama tur Slank di tahun 2008 silam. Dosy sendiri sebelumnya juga menggarap film Slank yang berjudul “Generasi Biru”. “Metamorfoblus” tidak tayang di bioskop-bioskop terkemuka di negeri ini. Hanya di tempat pemutaran alternatif sajalah penikmat film dapat menyaksikan film ini.</p>
<p>Sementara itu, sekitar pukul 20.30 WIB, di ruang seminar Taman Budaya Yogyakarta, FFD memutarkan salah satu film dari Mexico yaitu “El Velador” karya Natalia Almada. Film ini berdurasi 72 menit dan baru saja rilis tahun 2011 ini. Suasana di ruang seminar yang cukup hening bisa jadi karena penonton terkonsentrasi pada film yang sama sekali tidak memakai scoring music. Film ini menceritakan sebuah pemakaman di Meksiko yaitu “El Jardin”. Dengan tenang Natalia Almada mengajak kita berobservasi melalui mata penjaga malam untuk mengetahui bagaimana kehidupan pekerja dan keluarga korban di sana. Di Meksiko, salah satu kota yang bisa disebut jantung narkoba, perang terhadap narkoba sudah berlangsung sejak lama. Korban jiwa akibat peperangan tersebut tak terhitung lagi jumlahnya. Dalam film ini penonton diajak untuk melihat peperangan tanpa kekerasan.</p>
<p>Tampak beberapa penonton yang tadinya memadati bangku mulai beranjak setelah 50 menit sejak film “El Velador” diputar. Ada juga yang masih enggan beranjak dan tidak menghiraukan kursi di dalam ruang seminar yang lama-lama mulai banyak yang kosong. Seperti awalnya yang cukup hening, akhir dari acara pemutaran “El Velador” pun tidak kalah hening. Sebagian besar kursi sudah kosong pada akhir acara pemutaran dan penonton yang tersisa pun mulai berhamburan keluar dengan tenang. FFD pada Sabtu (10/12) akan dilanjutkan pada jam satu siang. Pukul 19.00 WIB akan digelar acara puncak yaitu malam penghargaan bagi para nominator kompetisi Festival Film Dokumenter.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/screening-di-hari-kelima-ffd/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Film Dokumenter di Antara Kuasa dan Representasi</title>
		<link>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/film-dokumenter-di-antara-kuasa-dan-representasi/</link>
		<comments>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/film-dokumenter-di-antara-kuasa-dan-representasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 08:10:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Minipost]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.festivalfilmdokumenter.org/?p=1399</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis oleh Ursula Natali Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta kembali menjadi sebuah ruang diskusi mengenai film dokumenter. Jumat (9/12), seminar kali ini mengambil judul “Memeriksa Relasi Kuasa dalam Dokumenter dan Dilema Representasi”. Pembicara yang diundang antara lain Rahung Nasution, Rhino &#8230; <a href="http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/film-dokumenter-di-antara-kuasa-dan-representasi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ditulis oleh <strong>Ursula Natali</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/film-dokumenter-di-antara-kuasa-dan-representasi/img_6440-300x200-2/" rel="attachment wp-att-1404"><img class="alignleft size-full wp-image-1404" title="IMG_6440-300x200" src="http://www.festivalfilmdokumenter.org/wp-content/uploads/2011/12/IMG_6440-300x2001.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta kembali menjadi sebuah ruang diskusi mengenai film dokumenter. <strong>Jumat (9/12)</strong>, seminar kali ini mengambil judul “Memeriksa Relasi Kuasa dalam Dokumenter dan Dilema Representasi”. Pembicara yang diundang antara lain Rahung Nasution, Rhino Ariefinsyah, dan Aryo Danusiri, dengan Antariksa bertindak sebagai moderator, dan Moh. Zamzam Fauzanafi sebagai penanggap.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesempatan pertama diberikan kepada Rahung Nasution. Rahung membagi pengalamannya mengenai pembuatan dokumentasi tato Mentawai. “Kembali Merajah Mentawai” diawali dengan pertemuannya dengan sahabatnya sesama penggila tato, Durga, yang telah memutuskan menjadi sipatiti. Misi mereka adalah menghidupkan lagi tradisi tato yang pelan-pelan diberangus elite kekuasaan. Singkat cerita, Rahung dan timnya pergi ke Mentawai dan mendokumentasikan kegiatan tattoo revival tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Proyek ini merupakan sikap politik. Perlawanan terhadap kuasa politik dan kuasa pengetahuan modern yang menghancurkan budaya mereka”, jelas Rahung. “Kuasa politik dan kuasa pengetahuan sejenis inilah yang ingin kami tolak, serta realitas-realitas yang mereka alami ingin kami ungkap melalui proyek kolaborasi pendokumentasian tradisi tato Mentawai”, tulisnya dalam lembar presentasi.<br />
Rhino Ariefiansyah lalu menceritakan fakta bahwa kerja etnografi yang melibatkan media audiovisual bukan hal yang baru. Tahun 1930-an foto dan film sudah dipakai oleh para antropolog sebagai medium untuk mengabadikan penelitian. Di sini mulai terjadi kerja kolaboratif. Yang terjadi dalam sebuah pegalamannya di Indramayu adalah terciptanya konsep kolaboratif etnografi, di mana film maker mengalami penyesuaian berdasarkan kesepakatan-kesepakatan dengan subjek penelitiannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang terjadi di Indramanyu ditafsirkan oleh Rhino sebagai momen perjumpaan dan momen refleksi. Momen ini yang mewarnai interaksi antara kedua belah pihak sepanjang proyek penelitian dari perencanaan dan pembuatan film hingga diseminasi. Namun yang disadari adalah tentu banyak praktik lain yang muncul dan berkembang sebagai buah dari proses pengalaman yang dilalui.<br />
Aryo Danusiri menggagas mengenai partisipasi sebagai bentuk pendisiplinan dan problem Plato’s Cave. “Bicara mengenai kuasa, sebenarnya bicara pula mengenai kebenaran dan makna dikonstruksi dalam proses pengetahuan yang berujung pada perubahan sosial”, ungkapnya. Plato’s cave menggambarkan bayangan yang terproyeksi di tembok akibat cahaya dari api unggun dianggap sebagai sebuah representasi. Ide ini gambaran bagaimana penonton tidak terkerangkeng dalam sebuah proyek gelap.<br />
Suasana diskusi terasa sangat antropologis, karena memang melibatkan pembicara dengan latar belakang antropologi yang membicang mengenai peran partisipasi dan kuasa dalam dunia dokumenter berdasarkan pengalaman mereka masing-masing.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/film-dokumenter-di-antara-kuasa-dan-representasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Para Penggiat Sinema Ingin Berbagi</title>
		<link>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/ketika-para-penggiat-sinema-ingin-berbagi/</link>
		<comments>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/ketika-para-penggiat-sinema-ingin-berbagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 08:07:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Minipost]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.festivalfilmdokumenter.org/?p=1396</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis oleh Abraham Adi Jumat (9/12), dalam ruang seminar Taman Budaya Yogyakarta, FFD 2011 kali ini mengajak penikmat setia film-film dokumenter maupun para film maker untuk berdiskusi lebih dalam mengenai ruang, distribusi, industri, dan restorasi dokumenter. Ekspektasi tersebut terangkum dalam &#8230; <a href="http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/ketika-para-penggiat-sinema-ingin-berbagi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ditulis oleh <strong>Abraham Adi</strong></p>
<p>Jumat (9/12), dalam ruang seminar Taman Budaya Yogyakarta, FFD 2011 kali ini mengajak penikmat setia film-film dokumenter maupun para film maker untuk berdiskusi lebih dalam mengenai ruang, distribusi, industri, dan restorasi dokumenter. Ekspektasi tersebut terangkum dalam sebuah diskusi yang sangat menarik dengan tiga orang pembicara, yaitu Andrew Lowenthal dari Engage Media, Suryani Liauw dari Indonesia Film Center, dan seorang wanita asal Thailand yang sudah malang melintang di dunia dokumentasi film, Pimpaka, dari Virgin.co. Ketiga pembicara tersebut merupakan pengelola-pengelola web video online di jalur independen.</p>
<p>Lahir dari keprihatinan mengenai perawatan film-film Indonesia yang buruk, Indonesia Film Center (IdFC) memulai perjalanan industrial video online-nya, yang terbilang masih cukup muda dengan usia dua bulan. Konsep situs indonesianfilmcenter.com ini sendiri terbilang cukup menarik dan pengelolaan web-nya sangat sistematis. IdFC dalam web-nya terbagi menjadi lima bagian. Bagian pertama adalah film box, bentuknya hampir sama dengan situs Youtube. Setiap orang bebas mengunggah film yang termasuk dalam kategori dokumenter, film pendek, trailer, iklan, hingga video klip. Setiap video dibatasi durasinya, yaitu 25 menit saja.</p>
<p>Bagian kedua adalah Film Info yang menampilkan informasi tentang film-film termasuk film yang sedang diputar di bioskop, sinopsis, hingga jadwal festival tercantum di dalamnya. Sementara itu, bagian ketiga adalah film shop, sebuah ruang untuk membeli film Indonesia dalam bentuk DVD atau VCD, atau meminjam dan menontonnya secara online dengan metode video streaming.<br />
IdFC berkeinginan mendorong komunikasi langsung antara para sineas dan penontonnya, antara sesama sineas (baik yang lebih junior maupun senior), dan antara sesama penggemar film, di Indonesia dan juga di dunia internasional. Hal ini mereka ejawantahkan dalam kolom Film Chat. Dan bagian yang terakhir adalah film archive yang didalamanya memuat banyak arsip video, mulai dari tahun 1920-an sampai tahun 1965.<br />
Dalam diskusi yang berlangsung selama tiga jam tersebut distribusi film menjadi hal yang paling sering dibincangkan. Memang selama ini permasalahan yang kerap terjadi pada industri macam ini adalah soal distribusi film yang akan mereka pertunjukkan. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa setelah mereka membuat film-film, yang bisa dibilang cukup berkualitas dan memiliki value yang cukup tinggi, mereka tidak tahu akan melakukan apa terhadap film-film itu. “Bahkan saya dan beberapa teman pernah bertemu dengan film maker yang sudah membuat 400 karya film mengenai suku-suku pedalaman di Indonesia, namun film tersebut sama sekali tidak didistribusikan”, ungkap Andrew. Dalam pendistribusiannya, Engage Media sendiri melakukan banyak inovasi. Pembuatan beberapa media-media melalui piranti lunak yang kemudian dimasukkan ke dalam web-nya adalah salah satu inovasi mereka. Mereka banyak mengandalkan teknologi media untuk membantu mereka dalam pengelolaan web. Engage Media juga menjalin kerja sama dengan beberapa stasiun TV lokal dalam hal pendistribusian. Perusahaan penyiaran mereka anggap memiliki jangkauan dan pasar yang luas.</p>
<p>Tidak jauh berbeda dengan Engage Media, dalam diskusi yang diikuti para penggiat industri video web ini, Virgin.co menyetujui pendapat bahwa stasiun televesi efektif sebagai media publikasi. Di Thailand sendiri hanya terdapat lima stasiun free TV, namun hal itu dapat mereka maksimalkan. Produksi dari Ekstra Virgin sendiri belum banyak, tapi sudah ada beberapa web asing yang meminta filmnya. “Apabila terjadi situasi seperti ini, Virgin akan senang hati memberikan copyright”, ujar Pimpaka. Begitu banyak pilihan tawaran dan pilihan ruang untuk memperkenalkan karya bagi para Film Maker, inilah salah satu diskusi yang membuka pikiran kita antara idealisme dan realita pada lingkungan sekitar kita khususnya para penikmat sinema.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/ketika-para-penggiat-sinema-ingin-berbagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Konsisten di Rangkasbitung</title>
		<link>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/belajar-konsisten-di-rangkasbitung/</link>
		<comments>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/belajar-konsisten-di-rangkasbitung/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 20:23:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Minipost]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.festivalfilmdokumenter.org/?p=1389</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis oleh Hilman Fathoni Sekitar pukul 19.00, Rabu (7/12) Presentasi Karya Forum Lenteng dimulai. Di Societet Taman Budaya Yogyakarta (TBY), “Dongeng Rangkas”, film yang memotret kehidupan dua orang penjual tahu dari Rangkasbitung diputar. Penjual tahu itu adalah Kiwong dan Iron. &#8230; <a href="http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/belajar-konsisten-di-rangkasbitung/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ditulis oleh <strong>Hilman Fathoni</strong></p>
<p><a href="http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/belajar-konsisten-di-rangkasbitung/newsletter-4-foto-2-300x257/" rel="attachment wp-att-1390"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1390" title="Newsletter-4-foto-2-300x257" src="http://www.festivalfilmdokumenter.org/wp-content/uploads/2011/12/Newsletter-4-foto-2-300x257-195x195.jpg" alt="" width="195" height="195" /></a>Sekitar pukul 19.00, Rabu (7/12) Presentasi Karya Forum Lenteng dimulai. Di Societet Taman Budaya Yogyakarta (TBY), “Dongeng Rangkas”, film yang memotret kehidupan dua orang penjual tahu dari Rangkasbitung diputar.</p>
<p>Penjual tahu itu adalah Kiwong dan Iron. Kiwong sebelumnya adalah seorang jawara, kalau tidak mau dibilang preman yang cukup disegani di Rangkasbitung. Sementara Iron adalah seorang penjual tahu yang memiliki passion kuat dalam ranah Undergorund. Ia memiliki sebuah band Grindcore bernama Monster. “Underground itu tanpa rekayasa!” ujar Iron dengan mantab. Kiwong pun juga memiliki latar belakang musik yang sama dengan Iron. Kiwong setiap hari menjajakan tahu di kereta api, sedangkan Iron menjual tahunya di pasar bersama istrinya. Meskipun hidup di pinggiran ibu kota dan hidup apa adanya, mereka selalu memegang teguh prinsip yang mereka yakini, salah satunya adalah agama.</p>
<p>Setelah 75 menit berlalu, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan dua orang narasumber, Hafiz dan Fuad Fauji. Fuad menyampaikan kesenanganya bisa bekerja sama dengan Forum Lenteng, dalam pengerjaan film yang cukup menguras keringat itu. Hafiz berkata bahwa tujuan dari film ini salah satunya adalah pembudayaan komunitas lokal dengan penggunaan media sebagai tools. Ia juga berkata mengapa di dalam “Dongeng Rangkas” tidak memakai scoring musik karena mencoba senaratif mungkin. “Agar dokumenter bisa bicara dengan visualnya”, tambhanya.</p>
<p>“Ini adalah upgrading, ingin memposisikan kawan-kawan untuk melakukan sesuatu. Tidak didorong untuk menjadi dokumenter professional, hanya member pengalaman”, ujar Hafiz. Isi film-film permberdayaaan tadi adalah perubahan yang menurut komunitas lokal penting. Menurutnya, ini adalah salah satu cara dimana puzzle di kepala masing-masing orang bisa kita bingkai.</p>
<p>Forum Lenteng berdiri di tahun 2003. Lembaga ini mendedikasikan diri untuk mengkaji berbagai permasalahan budaya di masyarakat. Tujuannya adalah mendukung dan memperluas peluang terjadinya pemberdayaan studi sosial dan budaya Indonesia. Film “Dongeng Rangkas” sendiri telah berkelana ke berbagai negara. Disutradarai oleh lima orang, masing-masing adalah Andang Kelana, Badrul Munir, Fuad Fauji, Hafiz, dan Syaiful Anwar, film ini dibuat selama tiga bulan (Mei-Juli 2011). Hasil produksi bersama antara Forum Lenteng, Akumassa, dan Saidjah Forum. November 2011, film ini ikut serta dalam Copenhagen International Documentary Film Festival, sebuah festival film dokumenter terbesar di Skandinavia dan sekarang menjadi salah satu yang terbesar di ranah Eropa.</p>
<p>Sumber foto: Film ‘Dongeng Rangkas’</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/belajar-konsisten-di-rangkasbitung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Kehidupan Melalui Film Dokumenter</title>
		<link>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/mengenal-kehidupan-melalui-film-dokumenter/</link>
		<comments>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/mengenal-kehidupan-melalui-film-dokumenter/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 20:16:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Minipost]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.festivalfilmdokumenter.org/?p=1381</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis oleh Osta Segara Rabu (7/12 ), pada pukul 10.00, bertempat di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY), diselenggarakan program Master Class bersama Stefan Haupt. Melalui program ini kawan-kawan Komunitas Dokumenter berharap akan muncul wacana baru yang dapat meningkatkan apresiasi &#8230; <a href="http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/mengenal-kehidupan-melalui-film-dokumenter/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ditulis oleh <strong>Osta Segara</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/mengenal-kehidupan-melalui-film-dokumenter/newsletter-4-headline-foto/" rel="attachment wp-att-1383"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1383" title="Newsletter-4-headline-foto" src="http://www.festivalfilmdokumenter.org/wp-content/uploads/2011/12/Newsletter-4-headline-foto-147x195.jpg" alt="" width="147" height="195" /></a>Rabu (7/12 )</strong>, pada pukul 10.00, bertempat di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY), diselenggarakan program Master Class bersama Stefan Haupt. Melalui program ini kawan-kawan Komunitas Dokumenter berharap akan muncul wacana baru yang dapat meningkatkan apresiasi dan mendorong perkembangan film dokumenter Indonesia. Selain itu, pengetahuan, keterampilan teknis serta estetis para film maker juga diharapkan dapat meningkat.</p>
<p style="text-align: justify;">Stefan Haupt adalah sutradara film dokumenter dan fiksi, yang berasal dari Swiss. Sutradara kelahiran 1961 ini telah banyak menghasilkan karya, diantaranya “A Song for Argyris” dan “Downtown Switzerland” yang juga diputar dalam sesi tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sesi pertama, “A Song for Argyris” diputar. Film ini menceritakan tentang kehidupan seorang Argyris Sfountouris yang hidup di sebuah desa bernama Distomo di Yunani. Pada tahun 1944, ketika usianya genap empat tahun, Distomo digempur habis-habisan oleh tentara Nazi. Namun, Argyris dapat meloloskan diri dari maut. Ia akhirnya hidup di sebuah panti asuhan di Swiss. Kehidupannya kemudian justru menjadi lebih baik. Ia berhasil menyelesaikan gelar doktor di bidang matematika dan astrofisika. Akan tetapi, trauma yang mendalam tentang masa kecilnya tidak pernah hilang dan selalu menimbulkan rasa emosional akan kepedihan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sesi tersebut, Stefan Haupt menjelaskan secara jelas tentang pengalamannya dalam produksi film ini. Ia bercerita, ia selalu membaca buku dan menggali pengalaman orang lain dalam proses pencarian ide cerita. Setelah mendapatkan sebuah konsep cerita, dia selalu melakukan suatu riset yang mendalam dan detail. Baginya, buku merupakan pedoman penting yang akan memperdalam riset. Melalui buku pula hal-hal baru yang sebelumnya tidak terpikirkan akan lahir. Lalu untuk mendapatkan informasi dengan berbagai sudut pandang dan berkesinambungan, wawancara terhadap subjek yang tepat, menurutnya, akan menjadi poin penting pada pembuatan film.</p>
<p style="text-align: justify;">Stefan Haupt mengatakan bahwa para pembuat film seharusnya mengangkat suatu topik sejarah. Melalui film dokumenter, para penonton akan diajak untuk lebih terbuka dan objektif dalam menilai sejarah dan kenyataan. Bila hal ini terwujud, barulah sebuah film mempunyai makna yang mendalam.<br />
Film yang diputar selanjutnya berjudul “Downtown Switzerland”. Di film ini Stefan bercerita tentang iklim politik di Swiss beserta kehidupan masyarakatnya. Film berdurasi 94 menit ini sendiri merupakan sebuah rangkaian dari kehidupan masyarakat Swiss. Film ini berkesimpulan bahwa arah politik suatu negara akan menggiring kehidupan masyarakatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada diskusi yang kedua ini Stefan menjelaskan bahwa untuk mendapatkan ide yang berbeda, ia banyak mencari pengalaman hidup di tempat-tempat yang baru. Salah satunya, misalnya, berpergian ke luar negeri untuk belajar tentang kebudayaan dan cara pandang lain. “Film maker harus sensitif dengan permasalahan sekitar yang tidak diperhatikan oleh orang banyak”, imbuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai sineas Stefan jarang merasakan kejenuhan. Ia beralasan dalam kehidupan, di mana pun itu, akan selalu menarik baginya. Ia terus merasa tertantang untuk memvisualisakan kehidupan itu dalam film-film dokumenter. Menikmati suatu proses akan mengalahkan rasa jenuh dan putus asa. Dengan tim yang memiliki visi dan misi sama, energi positif akan terus terpancarkan. Film dokumenter dianggapnya penting karena dapat memaparkan permasalahan secara objektif dan dapat meningkatkan pengetahuan bagi penontonnya.</p>
<p>Sumber foto: Film “A Song for Argyris”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/mengenal-kehidupan-melalui-film-dokumenter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Screening di Pembukaan FFD X</title>
		<link>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/screening-di-pembukaan-ffd-x/</link>
		<comments>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/screening-di-pembukaan-ffd-x/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 19:09:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Minipost]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.festivalfilmdokumenter.org/?p=1375</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis oleh Hilman Fathoni dan Osta Segara Foto oleh Abraham Utama Acara dimulai tepat pukul 20.00, para hadirin beduyun-duyun masuk ke ruang Societet Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Penonton tampak menikmati penampilan dari band pembuka, yang turut memeriahkan pembukaan Festival Film &#8230; <a href="http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/screening-di-pembukaan-ffd-x/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ditulis oleh <strong>Hilman Fathoni</strong> dan <strong>Osta Segara</strong><br />
Foto oleh <strong>Abraham Utama</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/screening-di-pembukaan-ffd-x/pergulatan-di-tahun-kesepuluh-2-300x149/" rel="attachment wp-att-1376"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1376" title="Pergulatan-Di-Tahun-Kesepuluh-2-300x149" src="http://www.festivalfilmdokumenter.org/wp-content/uploads/2011/12/Pergulatan-Di-Tahun-Kesepuluh-2-300x149-195x149.jpg" alt="" width="195" height="149" /></a>Acara dimulai tepat pukul 20.00, para hadirin beduyun-duyun masuk ke ruang Societet Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Penonton tampak menikmati penampilan dari band pembuka, yang turut memeriahkan pembukaan Festival Film Dokumenter (FFD) ke-10. Disambung langsung dengan sambutan dari Iwan selaku koordinator FFD ke 10 tahun 2011, lalu dilanjutkan dengan penyerahan layang-layang bertuliskan Festival Film Dokumenter kepada perwakilan dari kedutaan besar Kanada. Film-film yang diputar malam itu, yaitu “Susya” sebagai film pertama dan film kedua yaitu “Indonesiaku di tepi batas”.</p>
<p>“Ini adalah rumah kami,” kata Muhammad berbicara kepada Nasser Nawaj’ah disaat mengujungi situs reruntuhan arkeologis di sebuah desa Romawi era Yahudi. Pengusiran yang dilakukan oleh Israel terhadap penduduk Susya (Palestina) pada 25 tahun silam, membuat Muhammad dan Nasser Nawaj’ah mengingat suatu kenangan. Tempat tinggal keluarga mereka dan penduduk yang lain sekarang menjadi tempat wisata dan masuk ke dalam teritori Israel. Film ini memberikan gambaran fakta yang sederhana dimana adanya diskriminasi di balik pergolakan Israel dan Palestina yang tak kujung henti. Sejarah dan wilayah menjadi isu yang penting yang ingin disampaikan dalam film ini.</p>
<p>Tidak lama setelah riuh tepuk tangan dari penonton, film kedua yaitu “Indonesia di Tepi Batas” karya Elsa Adelina diputar. Film ini menggambarkan bahwa setelah 63 tahun Indonesia merdeka, kesejahteraan di Indonesia belum sepenuhnya merata dirasakan oleh penduduk di Indonesia. Di dalam film ini digambarkan bagaimana susahnya masyarakat yang tinggal di daerah Jasa tersebut mencari nafkah. Mereka sampai rela berjalan kaki untuk bekerja di Malaysia atau menjual hasil sumber daya alam yang didapatkan di Indonesia kepada Malaysia, demi kelangsungan hidup. Sangat terlihat dalam film tersebut bahwa nasionalisme di wilayah perbatasan sangat tinggi. Mereka sesungguhnya tidak ingin begitu saja melepaskan diri dari Indonesia.</p>
<p>Screening ini tidak berjalan kaku. Terkadang logat penduduk setempat membuat ruangan diwarnai suara tawa penonton. Penonton juga tampak ekspresif menanggapi alur cerita serta keluh kesah yang dilontarkan di dalam film tersebut, yang memang terbilang menyedihkan.</p>
<p>Setelah itu, sebagai penutup acara malam itu band pembuka acara yang berisikan musisi-musisi dari Jazz Mben Senen tampil membawakan beberapa tembang. Salah satunya adalah “Tentang Kita” dari Kla Project, yang juga menutup penampilan mereka. Usai rangkaian acara didalam ruang Societet, penonton berhamburan keluar dari ruangan Societet, Taman Budaya Yogyakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">#Tulisan ini juga dimuat <a title="alphabeta journal" href="http://alphabetajournal.com/?p=1174">Alphabeta Journal</a> sebagai salah satu media partner FFD 2011. Terbit mulai Senin hingga Sabtu (5-10 Desember 2011) dengan liputan eksklusif penyelenggaraan Festival Film Dokumenter X.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/screening-di-pembukaan-ffd-x/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pergulatan Di Tahun Kesepuluh</title>
		<link>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/pergulatan-di-tahun-kesepuluh/</link>
		<comments>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/pergulatan-di-tahun-kesepuluh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 19:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[minipos]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.festivalfilmdokumenter.org/?p=1368</guid>
		<description><![CDATA[Newsletter Edisi II Ditulis oleh Ursula Natali Foto oleh Abraham Utama Pelataran Gedung Societet di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada Senin (5/12) malam terlihat terang dan apik dengan dekorasi beberapa layangan merah besar yang tergantung di pintu masuknya. Saat memasuki &#8230; <a href="http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/pergulatan-di-tahun-kesepuluh/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Newsletter Edisi II</strong></p>
<p>Ditulis oleh <strong>Ursula Natali</strong><br />
Foto oleh<strong> Abraham Utama</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/pergulatan-di-tahun-kesepuluh/pergulatan-di-tahun-kesepuluh/" rel="attachment wp-att-1369"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1369" title="Pergulatan-Di-Tahun-Kesepuluh" src="http://www.festivalfilmdokumenter.org/wp-content/uploads/2011/12/Pergulatan-Di-Tahun-Kesepuluh-195x195.jpg" alt="" width="195" height="195" /></a>Pelataran Gedung Societet di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada Senin (5/12) malam terlihat terang dan apik dengan dekorasi beberapa layangan merah besar yang tergantung di pintu masuknya. Saat memasuki ruangan, kita disambut lagi dengan puluhan layangan putih kecil bergambar wajah-wajah.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengunjung malam itu juga terbilang ramai. Malam itu sedang dilangsungkan pembukaan Festival Film Dokumenter X dengan agenda Pemutaran film Susya (dari Israel-Palestina) dan Indonesiaku di Tepi Batas (dari Indonesia). Dua buah film yang punya benang merah sama, yaitu tentang perbatasan. Penuhnya ruang Societet, tempat screening berlangsung menandakan antusiasme masyarakat yang cukup tinggi terhadap FFD tahun 2011.</p>
<p style="text-align: justify;">Pasca-pemutaran film, Fransiscus Arpriwan, Koordinator Penyelenggaraan FFD X, tampak sibuk melayani pekerja media. Iwan, panggilan akrabnya, menyatakan bahwa tahun ini adalah tahun yang cukup berat. Banyak problem, baik dari intern maupun ekstern. Ada semangat yang menurutnya sendiri agak aneh, yaitu ‘eman-eman’. “Sayang sekali kalau sampai nggak terlaksana, apalagi sudah tahun kesepuluh”, terangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurutnya bagian yang paling berat dalam persiapan yang sudah hampir 8 bulan ini adalah mempersiapkan detail, seperti run-down, tong sampah yang belum ada, dan sebagainya. “Karena kita sibuk menyiapkan hal-hal seperti spektrum, pemutaran, dan sebagainya sampai melupakan hal-hal yang kecil”, ungkapnya yang dalam festival kali ini dibantu oleh 50 orang volunteer.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari segi antusiasme peserta, terjadi penurunan jumlah film yang dilombakan dibandingkan tahun lalu. “Tapi sisi positifnya adalah peningkatan kualitas. Tahun lalu gap antara film bagus dan yang kurang itu sangant kelihatan. Tahun ini gap itu semakin rapat, sampai di penjurian madya itu sulit menentukan mana yang masuk nominasi”, imbuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk tema film tahun ini menurutnya tidak ada tren tersendiri, melainkan merupakan tren dokumenter. “Jadi kebanyakan pembuat film dokumenter itu masih bercerita tentang budaya, kebudayaan yang hilang. Revitalisasi budaya itu sering banget di film-film dokumenter di Indonesia. Di diskusi besok (6/12) mau dijawab kecenderungan dokumenter yang selalu sama”, jelasnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Iwan menerangkan FFD terus memberi alternatif tontonan. Selama ini, film dokumenter cenderung berpatokan pada televisi. Gambar-gambar yang diambil sangat bergaya televisi. Festival ini, menurutnya, adalah ruang alternatif bagi publik sekaligus penyebaran informasi bahwa film dokumenter punya bermacam-macam gaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Skala internasional membuat FFD kali ini menjadi bergengsi. Namun di satu sisi, hal itu menjadi tantangan tersendiri. Komunikasi yang dilakukan melalui e-mail sesekali memunculkan miskomunikasi. Tantangan lain adalah pengiriman film dari luar negeri yang sulit diprediksi waktunya. “Ada film maker dari Korea yang bilang sudah kirim, tapi kita belum terima”, tutupnya.</p>
<p style="text-align: justify;">#Tulisan ini juga dimuat <a title="alphabeta journal" href="http://alphabetajournal.com/?p=1174">Alphabeta Journal</a> sebagai salah satu media partner FFD 2011. Terbit mulai Senin hingga Sabtu (5-10 Desember 2011) dengan liputan eksklusif penyelenggaraan Festival Film Dokumenter X.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/pergulatan-di-tahun-kesepuluh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencari Indentitas Negara Multikultur</title>
		<link>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/mencari-indentitas-negara-multikultur/</link>
		<comments>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/mencari-indentitas-negara-multikultur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 18:51:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Minipost]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.festivalfilmdokumenter.org/?p=1362</guid>
		<description><![CDATA[Newsletter Edisi I Ditulis oleh Abraham Adi Film dokumenter merupakan medium pengungkap berbagai makna realita. Melalui medium tersebut, para pembuatnya mengajak penonton untuk melihat sebuah peristiwa lewat sebuah teropong kecil mereka. Festival Film Dokumenter (FFD), yang diselenggarakan di Taman Budaya &#8230; <a href="http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/mencari-indentitas-negara-multikultur/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Newsletter Edisi I</p>
<p>Ditulis oleh <strong>Abraham Adi</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/mencari-indentitas-negara-multikultur/webindonesia-bukan-negara-islam-2/" rel="attachment wp-att-1364"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1364" title="webIndonesia-Bukan-Negara-Islam" src="http://www.festivalfilmdokumenter.org/wp-content/uploads/2011/12/webIndonesia-Bukan-Negara-Islam1-195x195.jpg" alt="" width="195" height="195" /></a>Film dokumenter merupakan medium pengungkap berbagai makna realita. Melalui medium tersebut, para pembuatnya mengajak penonton untuk melihat sebuah peristiwa lewat sebuah teropong kecil mereka.</p>
<p>Festival Film Dokumenter (FFD), yang diselenggarakan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), tahun 2011 ini mengangkat isu integritas bangsa. Cukup sensitif karena isu ini sering memunculkan pro dan kontra di berbagai golongan masyarakat. Perbedaan SARA terus menjadi topik yang hangat, salah satunya, karena penyebarluasan informasi yang terus-menerus ke masyarakat. Isu-isu tadi pun dikemas dalam bentuk berita, film bahkan musik. Diskursus persatuan dan kesatuan bangsa inilah yang coba disodorkan oleh FFD tahun ini. “Bhineka Tunggal Ika”, demikian FFD merangkum konsep tadi dalam sebuah tema.</p>
<p>Jason Iskandar mendokumentasikan bangsa ini dalam “Indonesia Bukan Negara Islam” beberapa waktu silam. Ia memperlihatkan realita kontradiktif di negera ini dimana Indonesia seolah-olah “dikuasai” oleh satu arus utama sebuah agama. Lewat penyerangan Front Pembela Islam (FPI) terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di Tugu Monas Jakarta 2008 silam, Jason merangkai isu besar ini melalui film dokumenternya. “Awalnya, aku hanya diajak oleh Ujo Agustin untuk melihat demonstrasi di Monas. Ternyata di sana FPI yang berjaga dan terjadilah penyerangan itu”, ungkap Jason. Judul film ini sendiri, lanjutnya, terinspirasi oleh poster seorang demonstran yang tergeletak di plataran Monas.</p>
<p>Film yang telah berkelana hingga Laos ini diisi oleh dua narator beragama Islam yang menuntut ilmu di sekolah Katolik selama bertahun-tahun. “Aku tertarik dengan dua orang ini karena ketika mereka masuk ke lingkungan sekolah, mereka menjadi minoritas. Namun ketika mereka menjejakkan kaki keluar dari gerbang sekolah, seketika itu pula mereka menjadi kaum mayoritas”, jelas lelaki keturunan Tionghoa ini. Kedua narator tersebut lalu menceritakan kisah mereka di sekolah Katolik tadi. Mereka juga bertutur akan pendapat mereka mengenai Islam dan Negara Islam itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemutaran film berdurasi sembilan menit ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang dihadiri oleh tiga pembicara, yaitu Jason selaku sutradara, Sandeep Ray seorang warga negara India yang bergelut di bidang konflik dan aktif berkecimpung dalam dunia film dokumenter, serta Nico Warouw seorang pengajar antropologi di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Diskusi yang diikuti tidak lebih dari 15 orang ini berjalan menarik dengan munculnya beragam argumen dan pertanyaan.</p>
<p><strong>Esensialisme Kultural</strong></p>
<p>Sisi antropologi budaya masyarakat Indonesia dielaborasi Nico dengan mendalam. Ia banyak mengapresiasi film ini melalui pertanyaan dan kritik atas keberpihakan seorang film maker terhadap sebuah realitas di masyarakat. “Ada keberpihakan dalam sebuah film dokumenter.”, kata Nico, ”Masalahnya hal ini dapat cenderung merayakan esensialisme kultural dan menciptakan stereotip bagi orang-orang yang menonton”, tambahnya. Ia berpendapat bahwa akan lebih baik bila penonton diberi ruang agar stereotip publik tidak serta merta muncul.</p>
<p>Sekalipun persoalan antaragama itu tidak akan menemukan satu titik temu yang konstan, pemutaran dan diskusi film semacam ini akan terus dibutuhkan untuk membantu negara multikultur ini menemukan keseimbangannya. Integritas bangsa yang bersemboyan “Bhineka Tunggal Ika” harus segera terbentuk. Semboyan tadi bukan sekedar gabungan huruf-huruf sederhana. Ia terdiri atas susunan balok-balok perbedaan yang menumpuk menjadi satu harapan: Indonesia sejahtera.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber foto: Film Indonesia Bukan Negara Islam</p>
<p style="text-align: justify;">#Tulisan ini juga dimuat <a title="alphabeta journal" href="http://alphabetajournal.com/?p=1174">Alphabeta Journal</a> sebagai salah satu media partner FFD 2011. Terbit mulai Senin hingga Sabtu (5-10 Desember 2011) dengan liputan eksklusif penyelenggaraan Festival Film Dokumenter X.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/mencari-indentitas-negara-multikultur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menuju Festival Film Dokumenter X</title>
		<link>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/menuju-festival-film-dokumenter-x-2/</link>
		<comments>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/menuju-festival-film-dokumenter-x-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 23:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Minipost]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.festivalfilmdokumenter.org/?p=1350</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis oleh Abraham Utama, Hilman Fathoni dan Osta Segara &#160; Newsletter Edisi I Jumat lalu, (2/12), Festival Film Dokumenter (FFD) kesepuluh telah memasuki masa pre-event. Pada acara yang juga merupakan bagian dari Biennale Jogja Paralel Event ini ditayangkan dua buah &#8230; <a href="http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/menuju-festival-film-dokumenter-x-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h4 style="text-align: justify;">Ditulis oleh <strong>Abraham Utama</strong>, <strong>Hilman Fathoni</strong> dan <strong>Osta Segara</strong></h4>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Newsletter Edisi I</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jumat</strong> lalu, <strong>(2/12)</strong>, Festival Film Dokumenter (FFD) kesepuluh telah memasuki masa pre-event. Pada acara yang juga merupakan bagian dari Biennale Jogja Paralel Event ini ditayangkan dua buah film, yaitu “Father, Son and Holy War” karya Anand Patwardhan dan “Promised Paradise” karya Leonard Retel Helmrich. Kursi-kursi di ruang seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY), tempat berlangsungnya screening, terisi cukup banyak sore itu. Antusias penonton ini, antara lain, disebabkan oleh tema kedua film yang memiliki garis besar sama, agama.</p>
<p style="text-align: justify;">Film pertama yang diputar adalah “Father, Son and Holy War”. Film ini terdiri dari dua bagian dan berdurasi 120 menit. Film ini menceritakan kesenjangan gender di India pada masa itu, dimana keberadaan perempuan tidak dihargai oleh budaya yang telah mengakar. Alhasil, berbagai golongan menuntut agar masyarakat dan pemerintah mewujudkan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Adegan pembakaran diri yang dilakukan oleh Sita untuk membuktikan kesetiaan pada Rama yang telah tiada menjadi prolog film ini. Ada pula adegan ketika anak-anak kecil berkumpul untuk menonton acara gulat yang disiarkan di televisi. Akibat dari tayangan tadi, anak-anak lelaki India memiliki persepsi untuk tidak bermain dengan anak perempuan. “Girls are girls, boys are boys. Girls are the calamity”, itulah yang mereka katakan tentang anak perempuan. Konflik lain yang diangkat oleh film ini adalah konflik antara Islam dan Hindu di India. Konflik agama ini terus memanas dan melahirkan sentimen antarpemeluk kedua agama. Pembunuhan, perusakan, dan kekerasan verbal akhirnya kerap mewarnai kehidupan beragama di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah jeda 30 menit untuk ibadah Sholat Maghrib, film kedua diputar. Sayang, banyak penonton yang tidak kembali setelah break. Hujan yang turun cukup deras saat itu pun seperti menghalangi hadirnya penonton-penonton baru. “Promised Paradise”, film berdurasi 30 menit, mencoba menguraikan hal-hal yang terjadi pasca-Bom Bali I. Dimulai dengan adegan Agus Nur Amal (PM Toh) sebagai dalang yang menceritakan kepada penontonnya peristiwa teror gedung kembar World Trade Center yang kemudian disambungnya dengan peristiwa bom Bali yang diotaki oleh Imam Samudra. Ia pun pergi ke Bali guna menemui Imam yang ditahan di salah satu lembaga pemasyarakatan. Banyak pertanyaan yang dilontarkannya kepada Imam, mulai dari yang bisa dijawab dengan mantap hingga yang membuat Imam diam seribu bahasa. Perjalanan tadi membawa Agus menemui Leo Lumanto, seorang paranormal di Jakarta, untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya yang tak terjawab.</p>
<p><strong>Penjurian</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, pada <strong>Sabtu</strong> <strong>(3/11)</strong>, penjurian kompetisi film dokumenter kategori pelajar selesai dilakukan. Hal yang menarik adalah keterlibatan seorang guru SMA, untuk pertama kali, dalam proses penjurian. St. Kartono, seorang pendidik di salah satu SMA swasta di Yogyakarta, menjadi satu dari tiga juri dalam kategori ini. Ia mengatakan kini film dokumenter menjadi salah satu wadah bagi para pelajar untuk mengungkapkan pemahaman mereka tentang dunia. “Kita patut bersyukur karena dengan ini kita dapat mengetahui betapa kayanya pelajar akan tafsir atas peristiwa di sekitar mereka”, ujarnya. Ia pun menambahkan bahwa kecerdasan linguistik bila dipadukan dengan kecerdasan visual akan menjadi sebuah sajian yang lengkap.</p>
<p style="text-align: justify;">Di hari berikutnya, perdebatan yang cukup alot terjadi dalam penjurian kompetisi film dokumenter kategori film pendek. Enam film yang masuk dalam nominasi memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun, dengan “jam terbang” para juri yang tergolong tinggi, output terbaik adalah sebuah keniscayaan. Pemenang kompetisi dari masing-masing kategori akan diumumkan pada hari penutupan, Sabtu (10/12) mendatang.</p>
<p style="text-align: justify;">#Tulisan ini juga dimuat <a title="alphabeta journal" href="http://alphabetajournal.com/?p=1174">Alphabeta Journal</a> sebagai salah satu media partner FFD 2011. Terbit mulai Senin hingga Sabtu (5-10 Desember 2011) dengan liputan eksklusif penyelenggaraan Festival Film Dokumenter X.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/12/menuju-festival-film-dokumenter-x-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Collaboration with VIS Vienna Independent Shorts – “Around the World in 4 Festivals”</title>
		<link>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/11/collaboration-with-vis-vienna-independent-shorts-%e2%80%93-%e2%80%9caround-the-world-in-4-festivals%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/11/collaboration-with-vis-vienna-independent-shorts-%e2%80%93-%e2%80%9caround-the-world-in-4-festivals%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2011 21:54:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Minipost]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wordpress/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[Around the World in 4 Festivals is an experiment    which we try out for the first time. Partner festivals are offered the opportunity to present themselves, their festival or institution on our website. Short films from their past programmes complete &#8230; <a href="http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/11/collaboration-with-vis-vienna-independent-shorts-%e2%80%93-%e2%80%9caround-the-world-in-4-festivals%e2%80%9d/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Around the World in 4 Festivals</strong> is an experiment    which we try out for the first time. Partner festivals are offered the opportunity to present themselves, their festival or institution on our website. <span id="more-186"></span>Short films from their past programmes complete the project. It was important for our collaboration partners to choose directors or films who are part of online communities or work with them.</p>
<p>Four Festivals from four countries and three continents are part of the project. The continents are Europe, South America, and Asia, the representatives are <a href="http://www.regenburger-kurzfilmwoche.de/">Regensburger Kurzfilmwoche</a> (Germany), <a href="http://www.molodist.com/en">Molodist </a>(Ukraine), <a href="http://www.festcurtasbh.com.br/" target="_blank">Belo Horizonte International Short Film Festival</a> (Brazil) and Komunitas Dokumenter (Indonesia).</p>
<p><a href="http://viennashorts.com/en.html" target="_blank">Vienna Independent Shorts Film Festival</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.festivalfilmdokumenter.org/2011/11/collaboration-with-vis-vienna-independent-shorts-%e2%80%93-%e2%80%9caround-the-world-in-4-festivals%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

